Assalamualaikum gaeess...
Selamat Pagi, Selamat hari Minggu, Selamat menempuh
UAS (bagi yang menjalankan)....
oh iya untuk hari aku share postingannya berupa cerpen
yang aku sadur dari temanku, karena aku sedang sibuk menyiapkan materi uas
perdanaku :)) jadi, ini mungkin juga terakhir aku posting regulernya, tapi
tenang.. bakal balik lagi kok tapi yah ga se teratur seperti halnya
kemarin-kemarin, karena ingin menikmati quality time selama libur semester dan
juga nyiapin konten buat di up lagi kok :))
Oleh: Ruli Aprilia
Kebudayaan tak lagi
melekatkannya pada sebuah persembahan cinta, melainkan telah jauh melangkah
untuk seberkas kehidupan yang dilanda bahaya. Hiruk pikuk dunia tengah
bersemayam dan melakukan perlawanan pada riuh rendahnya modernisasi, tariannya
perlahan akan hilang, bahkan tak dipandang, sekilas hanya sebagai bayangan,
uang untuk hidup lapang pun juga tak diperkenankan. Terminal tempatnya membuang
bahaya atau “tolak bala” untuk mereka yang melihat dengan melemparkan kepingan
dan selembar kertas untuk makan. Sri,Penari lemah lembut dengan hati yang tulus
harus menarik napasnya atas terpaan yang melanda, dari setiap alunan gendhing
sampak dengan gamelan,
sampur dan cemong yang dibawanya menandakan ia sedang
menari pada alam untuk membuang malapetaka pada mereka yang hendak mendekat dan
melihat, tentunya Sri adalah perempuan yang selalu menari Tari Muang Sangkal
dalam keadaan suci, tatkala kesucian itu terhalang, tak tampak dirinya dengan
busana legha dan aksesoris yang lebih dari gelang dan cunduk itu
di terminal.
Sri adalah contoh perempuan yang
konsisten dengan jalan hidupnya, senantiasa bangun menopang siapa-siapa di pundak kecilnya,
berjuang melepas jeratan dan tarikan sekolah yang diinginkannya. Meskipun jalan
tak seluruhnya nyata dengan tarian yang berkembang pada jiwanya.
Pertemuan Sri dengan seorang penari
dari kaum kacong dan kedua penari kaum cebbing membuatnya lirih
bersimpuh tenggelam dalam pembelajaran tarian yang lebih mendalam. Hingga
kisah-kisah terlukiskan pada dinding-dinding pilu, bala tengah datang pada
hidupnya. Ambisi yang lebih luas dari ilusi membawanya pada kehilangan dan
kemiskinan. “inilah Sri, bala malapetaka telah datang pada hidupmu, mana Tari
Muang Sangkalmu untuk menolak bala itu, tunjukan bahwa hidupmu tak lagi lirih
sepi di belantara sunyi”. Hingga kesadaran menuntunnya untuk kembali bersatu
dengan persembahan cinta dan mengantarnya untuk berelasi dengan dunia yang
fakta antara Tuhan dan hidupnya.
oke gaess itu saja yang bisa aku share semoga bermanfaat. have a nice long holiday and see you byeee
wassalamualaikum....
oke gaess itu saja yang bisa aku share semoga bermanfaat. have a nice long holiday and see you byeee
wassalamualaikum....
Komentar
Posting Komentar