![]() |
| Jempharengan, permainan memanah kota Bangkalan |
Assalamualaikum gaess..
Hai
apa kabarr ?? semoga selalu dalam keadaan selalu fit yah. Btw, selamat tahun
baru semuanya.. akhirnya setelah vakum karena libur tahun baru, alhamdulillah
sekarang bisa share pengalaman liburan nih hehe..
Postingan
kali ini bakalan bahas tentang salah satu kebudayaan pulau Madura nih, yaitu
permainan memanah dari salah satu kabupaten di Pulau Madura, yakni Bangkalan. Informasi
ini aku dapat dari kembaranku, Ruli Aprilia yang berdarah sastra dan amat cinta
akan tanah kelahirannya wkwkwkwk.
Kebiasaan memanah pada zaman
kerajaan telah menjadi dasar adanya budaya yang masih dilestarikan dalam
lingkup nusantara. Diketahui bahwa Indonesia merupakan daerah yang
multikultural dengan keberagaman budaya lestari alam yang mengokohkan satu
tabiat identitas. Sehingga setiap kebiasaan yang pada umumnya terjadi atau
dilakukan oleh sesepuh sejarah, keberadaannya diperjuangkan untuk tetap ada dan
berkembang. Memanah adalah salah satu kegiatan unik yang biasanya dilakukan
oleh para Raja kerajaan beserta ksatrianya untuk berperang melawan musuh
ataupun untuk sekedar berburu. Tradisi memanah ini, memiliki nama yang
berbeda-beda pada setiap elemen masyarakat sesuai dengan daerahnya, tentunya
berbagai falsafah dan nilai-nilai yang terkandung pun juga berbeda, meski
notabenenya tetap sama dalam artian memanah. Seperti halnya jawa, memanah
secara tradisional lebih dikenal dengan permainan panahan, sedangkan di
Yogyakarta disebut dengan permainan Jemparingan. Begitu pula di Madura, memanah
ini diberi nama permainan Jempharengan,
yang secara tekstual hampir sama dengan penamaan di Yogyakarta, tetapi secara
dialektika berbeda.
Keberadaan
jempharengan, dimulai kisahnya sejak
adanya Dinasti Cakraningrat di Bangkalan Madura, dimana sosok Cakraningrat I yang
merupakan pemanah terbaik pada masa itu, adalah panglima besar dari Sultan
Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma Kesultanan Mataram. Cakraningrat I sering
menggunakan jempharengan untuk
memanah dan berburu. Sehingga ukiran sejarah jempharengan dalam memanah menjadi landasan panahan ala mataram
tumbuh berkembang pada Dinasti Cakraningrat. Pada awalnya, jempharengan hanya dimainkan oleh kaum bangsawan kerajaan, karena
hakikatnya hanyalah kaum kerajaan yang masih memiliki nilai sosial yang tinggi.
Setelah perkembangan waktu terjadi, jempharengan
mulai mendapati keberadaannya lengser setelah era kerajaan juga kandas.
Sehingga berbagai upaya pelestarian pun mulai dikerahkan.
Kontruksi
pembuatannya, jempharengan dibuat
dari kayu bambu yang bernama bambu pettong,
serta busurnya diberi nama gendewo dan tali pada jempharengan disebut String. Bambu yang digunakan untuk pembuatan jempharengan haruslah berumur kurang
lebih empat tahun. Serta dalam pengambilan atau pemotongan kayunya tidak
diperbolehkan pada saat terjadinya bulan purnama, yang memberikan tanda bahwa
air pasang akan naik. Serta pengambilannya dilarang pada hari ahad paing atau minggu
paing. Karena pada ahad paing merupakan sama artinya pada seseorang yang
memiliki golongan darah B, akan menimbulkan makna kurangnya kesabaran pada saat
gendewo dimainkan.
Uniknya,
jempharengan tak seperti permainan
panahan lainnya yang dilakukan dengan berdiri dan mengarahkan anak panah pada
target. Melainkan terdapat berbagai filosofi pada permainan jempharengan
yang dilakukan dengan duduk atau bersimpuh. Di zaman Dinasti Cakraningrat
Bangkalan Madura, jempharengan yang
dimainkan oleh prajurit atau ksatria yaitu dengan meribakan dirinya untuk duduk
dengan kaki bersila. Hal ini menunjukkan kegagahan dari seorang ksatria dalam
ketangkasannya mencapai target. Sedangkan bagi kaum bangsawan keraton, posisi
duduk yang dilakukan adalah bersimpuh, menunjukkan keberadaan yang lebih tinggi
dari rakyatnya. Bersila dan bersimpuh merupakan kesamaan dalam artian sama-sama
dalam posisi duduk, yakni sama untuk mendudukkan diri yang memberikan konklusi
bahwasanya semua manusia adalah sama derajatnya, sehingga tidak menimbulkan
sebuah sekat. Saat ini, untuk laki-laki yang bermain jempharengan maka tetap dengan posisi duduk, boleh dengan bersila
atau pun bersimpuh. Sedangkan bagi pemain wanita, umumnya menggunakan posisi
duduk dengan bersimpuh, kaki bersilang di belakang. Dengan ini menunjukkan
bahwa keberadaan laki-laki adalah lebih gagah dari sosok wanita yang lemah
lembut, meski posisi duduk ini menitikberatkan bahwasanya tidak ada perbedaan
kedudukan antara laki-laki dan wanita.
Jempharengan memang
berbeda dengan tradisi memanah yang terdapat pada era Kerajaan Korea Selatan
(baik Kerjaan Silia, Goryeo, dan Joseon) yang menggunakan panah dengan posisi
berdiri. Begitu pula dengan panahan modern yang berbeda dengan jempharengan, pada posisi melepas busur
anak panah dan target. Dalam jempharengan
di Madura, busur panah ditarik dengan tegap dimana tangan kiri lurus sejajar
dengan bahu, dan tangan kanan menarik busur sampai jempol bersentuhan dengan
dagu, mulut, atau pipi agar anak panah dapat melesatkan pada sasaran. Pada jempharengan
yang di targetkan adalah sebuah bandul. Bandul dengan jarak sekitar 30 meter
dari posisi pemain, memiliki nilai dalam ketangkasan yang sangat unik. Apabila
pemain dapat mengarahkan target dan melepaskan anak panah dan melesatkannya
pada bandul di posisi poin tertinggi yaitu tiga poin pada bagian berwarna
merah, akan diiringi dengan bunyian lonceng yang terpasang disekiar bandul.
Ketika pemain dapat melepaskan panah pada target bandul berwarna putih, maka
pemain akan mendapatkan satu poin. Sedangkan untuk bagian yang berwarna hitam,
maka pemain akan mendapati poinnya menjadi berkurang.
Terdapat
kategori terhadap setiap pemain permainan jempharengan
, yakni gendewo yang dipakai
harus sesuai dengan sosok fisik dan emosional pemain. Gendewo harus sesuai dengan tinggi badan,
rentang tangan, dan golongan darah pemain. Falsafahnya adalah ketika seseorang
yang bergolongan darah A dapat dipastikan bahwa permainannya dalam mengarahkan
dan melepaskan anak panah akan pelan tarikannya serta terarah tujuannya.
Kemudian dengan seseorang yang bergolongan darah B, dalam menarik gendewo
cenderung kasar atau dapat dikatakan tidak dapat melepaskannya secara pelan,
cenderung tergesah-gesah hilanglah kesabaran dalam jiwanya. Pada seseorang yang
bergolongan darah O, dalam permainan jempharengan adalah cocok sebagai
seorang pemanah yang sedang menunggangi kuda, karena arahan anak panah yang
diarahkan cenderung selalu aktif untuk mencapai tujuan atau target.
Setiap
pemain jempharengan yang telah
melepaskan anak panah tersebut pada bandul atau target, maka wajib hukumnya
untuk si pemain mengambil anak panah tersebut ketika permainan telah usai. Hal
ini memiliki filosofi bahwasanya setiap orang memiliki tanggung jawabnya
masing-masing terhadap apa yang telah dilakukan. Maka kemuliaan pada jempharengan ini memberikan sebuah
penghormatan pada diri pribadi agar selalu ingat akan setiap perlakuan harus
dipertanggung jawabkan.
Ketika
pecinta sepeda motor memiliki sebuah komunitas atau yang lebih dikenal dengan
geng motor, maka jempharengan memiliki
komunitas di Madura yang diberi nama Paguyuban Jempharengan. Paguyuban jempharengan adalah perkumpulan
orang-orang pecinta jempharengan. Dalam
permainan jempharengan, tidak hanya
arahan dan obsesi untuk mencapai target, melainkan dalam permainan tradisional
ini menegaskan dan mengajarkan pada pencapaian karakter untuk sekedar mengasah
jiwa dalam mencapai kedamaian batin sebelum melepaskan anak panah pada bandul
dari gendewonya. Kesabaran dan tanggung jawab melengkapi sisi kesempurnaan dari
keberadaan jempharengan, sehingga
mengantarkan diri pada pembelajaran menuju perbaikan akal, emosi, serta
perlakuan yang arahnya mencapai kebaikan dan kemuliaan.
okee gaess itulah bagian dari warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita yang sepatutnya harus kita cintai dan lestarikan. semoga bermanfaat, thank you and see you in the next post bye....
wassalamualaikum....



Komentar
Posting Komentar