![]() |
| Asal mula Carok Madura |
Assalamuailaikum....
Banyak yang salah kaprah akan
nama Madura. Madura itu nama provinsi atau kota ? tak sedikit yang menanyakan
hal tersebut selama aku berada di kota ini. Mungkin karena kecilnya kotaku ini.
Pelosok ? tidak. Bahkan Madura ini dekat sekali dengan kota terbesar kedua di
Indonesia, setelah Jakarta. Lantas mengapa banyak yang tidak tau ? mungkin saja
ketika mereka dipancing dengan kata Sate dan Carok mereka akan menerka langsung
bahwa itu Madura tanpa harus tau itu nama Provinsi atau apa. Yang jelas Madura
itu bukan provinsi atau kota, melainkan nama sebuah pulau tempat lahir Sang
Arya Wiraraja, penasehat Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit. Tempat awal
mula dimana sejarah Majapahit yang menguasai Nusantara dimulai.
Awalnya, Kerajaan Singhasari mengalami konflik
intern yang menyebabkan Raden Wijaya harus lari dari pasukan Khubilai
Khan ke Tanah Madura untuk meminta nasehat pada Arya Wiraraja, Adipati Sumenep,
Madura. Setelah itu, berangkatlah Raden Wijaya untuk menghadapi pasukan
tersebut dan kemudian mendirikan kerajaan yang diberi nama Majapahit
Terlepas dari hal bersejarah
tersebut, Madura terkenal akan budaya Carok-nya yang terkenal akan kekerasan
watak masyarakat Madura. okay postingan kali ini akan bercerita sedikit
mengenai asal muasal Carok tersebut.
Menjajaki
keberadaan Madura yang identik dengan stereotip terhadap masyarakatnya,
menyatakan bahwa masyarakat Madura
adalah kontruksi masyarakat yang keras baik dalam artian bertutur, beraktivitas
dan sebagainya. Sebagaimana pemahaman khalayak pada umumnya, ketika menapakkan
diri di tanah gersang nan luas ini, menyatakan bahwa jati diri yang tegak
adalah sifat keras, angkuh, dan giat.
Suatu pemahaman yang mendasar untuk meluruskan hal-hal yang semestinya,
maka unsur kebudayaan tidak dapat
dilihat hanya dalam satu sudut pandang saja, melainkan pada hakikatnya terdapat
falsafah dan nilai-nilai terhadap elemen kebiasaan dan adat istiadat, bahkan
struktur terkecil-pun masih terdapat makna yang terkandung. Memasuki
ruang-ruang terkecil, maka makna “keras” tersebut menyelami pengertian yang
lebih dalam, sehingga menimbulkan stereotip terhadap arogansi yang menimbulkan
kata “Carok”.
Tidak
ada hentinya pernyataan yang menimbulkan konotosi keburukan akibat Carok.
Kesimpangan dalam masyarakat, bahwa masyarakat Madura khususnya Bangkalan era
ini menolak dan menyatakan bahwa Carok bukanlah budaya Madura, melainkan masih
menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat luar apakah benar-benar bukanlah
budaya, dan kenapa mengarah pada Madura ketika menyebutkan Carok, pertanyaan-pertanyaan
kembali akan mengulas sejarah dan falsafah dari Carok itu sendiri. “Jika tulang
rusukku bengkok, luruskanlah. Jika tulang punggungku menunduk, tegakkanlah. Dan
jika jantungku mulai lengah, maka tandanya aku perlu dihidupkan”.
Carok
sering dikaitkan dengan Sakera yang telah fundamental sebagai ikon pulau kecil
ini. Awal mulanya, Sakera yang konon berasal dari daerah Tanah Merah dan
kemudian menetap di Pasuruan khususnya daerah Bangil yang masih lingkup daerah
Madura pada waktu zaman kerajaan, gagah berani dan keras dalam melawan pasukan
Belanda menggunakan celurit. Sakera sebagai seorang mandor perkebunan tebu di
Pasuruan pada zaman penjajahan Belanda, merasa harus memperjuangkan hak-hak
masyarakat sekitarnya akibat monopoli yang dilakukan pihak Belanda. Sehingga
dengan celurit yang setiap harinya digunakan sebagai alat pemotong tebu,
digunakannya kembali untuk bertarung melawan Belanda. Hal inilah yang mendasari
mengapa harus celurit yang digunakan sebagai alat pembunuhan dalam Carok.
Kemudian diadopsilah oleh masyarakat Madura dalam menyelesaikan suatu perkara
dalam kehidupannya dengan Carok. Dapat dipastikan bahwa Carok merupakan budaya
Madura yang diadopsi dari awal mulanya di Pasuruan, melainkan terus berkembang
pada masyarakat Madura pada zaman itu. Dalam konklusi Carok, tidak hanya
mengarahkan sebuah pemikiran yang kejam, jahat, karena saling membunuh,
melainkan falsafah dan nilai-nilai masyarakatnya yang independen mengantarkan
Carok masih hangat di dengar namanya hingga masa kini. Walaupun wujudnya telah
hilang dan yang ada adalah Selep (menusuk dari belakang).
Carok
bukanlah sebuah kriminalitas, melainkan kontruksi budaya yang mengantarkan
kemuliaan terhadap masyarakatnya. Pasalnya, carok tidak akan terjadi jika
permasalahannya diluar konteks mempertahankan harga diri, yakni lebih
konkritnya adalah permasalahan: wanita, harta, dan tahta.
Kemudian
diadakan suatu musyawarah yang menghimpun seluruh keluarga, baik dari keluarga
pihak A dan pihak B untuk berkumpul bersama memutuskan tanggal, waktu dan
tempat pelaksanaan, hal apa yang akan dilakukan, serta siapa perwakilan yang
gagah untuk maju memperjuangkan harga diri keluarganya dari keduabelah pihak.
Pelaksanaan
Carok tersebut dihadiri oleh seluruh anggota keluarga dan masyarakat dari kedua
belah pihak, melainkan
jika belum ada yang mati salah satunya, maka carok belumlah selesai. Dan jika
salah satunya telah mati, carok pun usai dan tidak ada lagi dendam dalam
masyarakat tersebut. Dapat dinyatakan bahwa permasalahan telah usai dan
selesai.
Mulia
sekali keberadaan Carok jika ditelaah menurut falsafah dan nilai-nilainya,
menghimpun sesuatu yang menurut agama pun itu benar. Oleh karena itu, kenapa patutlah Carok tegak
disandangkan sebagai budaya, karena kemuliaannya terkontruksi pada poin Jihad,
Musyawarah keluarga, dan keterbukaan serta kebesaran hati menyebabkan dendam
itu telah sirna dan pudar karena musyawarah telah diegakkan atas pelaksanaan
Carok. Sehingga Carok yang benar-benar Carok adalah perkelahian dua orang yang
disebabkan untuk mempertahankan harga diri atas permasalahan wanita, harta, dan
tahta yang sebelumnya dilakukan melalui proses musyawarah keluarga, sehingga
kekalahan salah satu pihak dianggap telah menghilangkan dendam. Maka patut
untuk diluruskan agar kesenjangan dalam pemahaman masyarakat atas Carok
tersebut tidak selalu dalam lingkup kejahatan, melainkan lebih dari itu
meninggikan tingkat “kemuliaan”. “Jika tulang rusukku bengkok, luruskanlah.
Jika tulang punggungku menunduk, tegakkanlah. Dan jika jantungku mulai lengah,
maka tandanya aku perlu dihidupkan”.
Thanx to my beloved friend, Ruli Aprilia yang telah bersedia menghabiskan waktu meng-share ilmu, sehingga bisa posting ini. Hope you happily ever after and can collaborate making something new. Miss you a lot telur :))
okay that's all we can share, hope you like and join it. dont forget to read my next and previous post. Thank you so much guys and see youu babay
wassalamualaikum.....
.
.
.
BONUSS!!
jangan lupa mampir juga di blog Ruli Aprilia, karena bakal ada kejutan-kejutan sastra kekinian disana wkwkwk.. ruliapril69.blogspot.co.id



Penulisnya org sumenep ya?
BalasHapusiyaaa
HapusMantaps min
BalasHapus