Assalamu’alaikum gaess...
Balik lagi di postingan terbaru aku nih. oh iya, sebentar
lagi lembaran baru kalender tahunan akan segera tiba. Nah, banyak hal pastinya
terjadi di 2017. semoga yang baik akan selalu baik dan makin tambah baik dan
juga semoga yang kurang baik cepat tergantikan dengan yang lebih baik. Lalu,
apa resolusimu di tahun berikutnya ?
Oh ya, kali ini aku akan membahas PEMIRA (Pemilihan Raya)
yang ada di kampusku nih. pada pemilihan kali ini yang akan dipilih ialah
Presiden dan Wakil presiden Mahasiswa, Ketua dan wakil ketua Jurusan serta
perwakilan anggota Badan Legislatif mahasiswa (BLM). pastinya, di kampus kalian
juga terlaksana acara seperti itu ya kan ?.
Hmm bicara soal pemira, momen ini ditunggu-tunggu oleh
seluruh warga kampus nih, khususnya mahasiswanya. Karena momen ini menentukan
siapa yang akan memimpin dan menjalankan organisasi tertinggi di kampus ini. Salah
satunya adalah aku, dimana pemira tahun ini merupakan momen pertama kalinya aku
memilih calon pemimpin. Pemilihan yang sering disebut dengan pesta demokrasi
tak kalah seru dengan pesta demokrasi sesungguhnya, yakni ajang memilih
pemimpin rakyat.
Namun, dibalik keseruan itu, terdapat hal yang sangat
disayangkan, yakni pemilihan calon tunggal. Tidak adanya pesaing calon pemimpin
membuat pesta demokrasi kampus seperti ada yang kurang. Memang, calon tunggal
tidak dipermasalahkan dalam peraturan perundang-undangan demokrasi di Indonesia
selama calon tersebut masih bisa memenuhi syarat. Lantas, apa yang disayangkan
?
Meski Secara hukum dan prosedural pasangan calon tunggal
bisa tetap dipilih meski lawannya adalah kotak kosong, secara substansial dan
ruang penyelenggaraan pemilihan yang sangat tidak kompetitif. Karena mungkin
saja, calon tersebut tidak sesuai dengan harapan kita yang kemudian akan
memilih kotak kosong tersebut. Hal ini dapat membunuh demokrasi.
Pemilihan calon pemimpin pada hakikatnya adalah memberikan
pilihan pemimpin kampus yang mempunyai visi dan misi terciptanya kampus yang
lebih baik dalam kontestasi yang jujur, adil dan transparan. Demokrasi hanyalah
sebagai fasilitas bagi para pemimpin untuk melaksanakan visi dan misi. Lalu,
apa yang bisa diharapkan mahasiswa bila pemilihan tanpa adanya kontestasi
tersebut ?
Yah, itulah pengalaman pertamaku menjadi seorang voter atau
pemilih yang begitu excited terhadap pemilihan, namun harus dirundung
kekecawaan karena terbatasnya yang dipilih. Harapannya, semoga tidak ada lagi peristiwa
seperti ini dan yang memiliki kepribadian seorang pemimpin tidak takut untuk
mencalonkan diri.
Kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kekurangan. Just comment
below gaes :)). Saran
dan kritik sangat membantuku untuk lebih baik lagi and see yaa..
Wassalamualaikum wr. wb.
Komentar
Posting Komentar